INVASI KAPITAL 2 (epiprolog)

“Sudah lama aku memikirkannya.”

“Memikirkan apa ?”

“Sedikit kejutan bagi penduduk planet ini.” Kalian pasti akan dibuat takjub karenanya.”

“Apa yang kamu bicarakan ?”

“Aku tidak ingin tergesa-gesa melakukannya. Penolakan yang massif karena ketidakmengertian. Aku tidak ingin rencanaku gagal hanya karena alasan klise.”

“Ambisimu dapat membunuhmu, Sobat.”

“Membunuhku ? Siapa yang sudi membunuh orang yang akan menciptakan ‘puncak kepuasan’ di planet ini, pertumbuhan kemakmuran ‘tak terperi’.”

“Pertumbuhan kemakmuran . . . .? Apa maksudmu ?

“Bukankah itu yang diinginkan mereka ? Segala sesuatu yang bertumbuh.” Aku tahu, mata mereka tak bisa berbohong. Mereka menginginkan lebih banyak ‘tembok beton’ di permukaan planet mereka. Dan bangsa kita akan dengan senang hati membantu memuaskan hasrat mereka.”

“Bangsa kita ? Kamu bilang bangsa kita ? Ayolah, bangun dari tidurmu. Kamu bermimpi. Kita ini adalah bangsa yang terlahir sebagai budak. Kita tak lebih dari pelayan mereka. Bagaimana mungkin kita dapat . . . .”

“Ssssttt . . . , tak perlu kau lanjutkan kalimatmu. Aku tahu apa yang aku lakukan, aku mengerti tiap detil dan aku menyadari konsekuensinya. Dan kau, aku ingin kamu menjadi asistenku.”

(khalid.frederick@gmail.com)

One Response to “INVASI KAPITAL 2 (epiprolog)”

  1. Bangsa yang terlahir sebagai budak?
    Terinspirasi dari Mesir Kuno?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.