Re-FRESH

Hari di mana aku bisa berlama-lama di basecamp, tanpa terganggu hiruk-pikuk Jakarta. Satu hari yang cukup membuatku merasa nyaman. Masa penyegaran dan pemulihan energi. Ditemani buku-buku favorit dan beberapa compact disk yang memuat lagu-lagu berirama lembut. Bersandar ke bantal yang menempel tembok. Plong . . . .

Setelah sebelumnya dijejali rutinitas harian yang menguras energi. Pagi berangkat ke kantor, duduk seharian di depan komputer, diselingi sholat dan makan siang, duduk lagi. Mouse dan keyboard menjadi sahabat pasif sepanjang hari. Pulang-pulang, matahari sudah menyentuh batas cakrawala, beranjak ke tempat peraduannya. Dikatakan pulang, sebetulnya tidak juga. Lebih tepat dikatakan bergeser ke titik kesibukan berikutnya. Kampus, menjadi pilihan selanjutnya. Yah, mau bagaimana, risiko anak muda yang “dewasa” sebelum waktunya. Hehe . . .

Bukan perkara mudah mengambil pilihan hidup di ibukota. Mulai saat membuka mata di pagi buta hingga kembali membenamkan diri di malam gelap gulita, pengap Jakarta rasanya terus mengikuti. Jalanan yang macet, para komuter yang berdesak-desakan di dalam bus, pengemis dan pengamen yang keluar masuk bus, hingga raungan sirine di perlintasan kereta api. Potongan-potongan kecil yang sedikit banyak menggambarkan warna kehidupan di ibukota. Butuh energi ekstra untuk melakukan adaptasi di saat-saat pertama. Konsekuensi dari pilihan hidup. Ya . . ., meski sesekali aku merasakan ini sebagai beban, aku pastikan perasaan semacam itu tidak akan lama. Aku selalu berusaha melakukan penyesuaian, mengembalikan rasa aman ke tempatnya semula. Anugerah mental yang membuatku merasa amat bersyukur. Persinggunganku dengan banyak realita kehidupan mengarahkan mentalitasku bergerak ke puncak kontinum kematangan. Aku sekarang lebih mampu menghargai apapun yang terjadi atau menimpaku. Aku terus belajar menghadirkan perasaan bahagia dalam setiap situasi. Karena perasaan semacam itu amat berarti bagiku. Ia memberikan sebentuk energi kehidupan berupa luapan semangat, pemantik api keberanian untuk terus bergerak maju, menghantam tiap tembok keterbatasan dan membawaku melintasi rute kehidupan dengan optimisme yang melampaui batasan-batasan kemanusiaan.

Jakarta, 20 Desember 2009, pukul 07.00

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.