Pesan AVATAR Bagi Penduduk Bumi
Awalnya, sama sekali gak niat nonton. Misiku cuma satu, optimalkan idle cash on hand untuk mendapatkan buku-buku recommended dari diskon Gramedia Grand Indonesia. Entah setan mana yang menggodaku saat itu, yang nyatanya sudah melangkah keluar dari pusara elite tempat belanja kelas wahid, tiba-tiba kembali merelakan diri tercebur ke dalamnya. Batinku bergolak, bisikan ghoib “yah, sesekali tidak apa-apa” betul-betul sangat mengganggu. Tetapi, pada akhirnya duduk juga di sofa empuk baris ke-J nomor 12.
AVATAR, pilihan bijak untuk ditonton. Tentu, bijak bagi mereka yang mampu menemukan hidden message dari tujuan dibuatnya film tersebut. Di luar perkiraan memang, saat pertama melihat trailernya di TV. ”Ah, paling nich film nyuguhin tema-tema fantasi plus efek-efek spektakuler standar film ber-genre petualangan”, pikirku. Setelah menikmati bagian awal film, aku masih melihat film ini hanya sebagai film fantasi. Namun, setelah momennya berubah tepat ketika scene film memasuki tahap klimaks, aku mulai bisa menemukan pesan-pesan tersembunyi yang barangkali ingin disampaikan sang sutradara lewat pembuatan film ini.
Film AVATAR menceritakan tentang upaya manusia menjelajah luar angkasa untuk mencari planet yang diharapkan mampu menyediakan sumber energi baru bagi kehidupan manusia di bumi. Di film memang tidak diceritakan bagaimana kondisi planet bumi di abad itu, tetapi bisa diduga bahwa pada era itu planet bumi mengalami krisis energi yang parah dan solusi satu-satunya adalah mencari planet lain yang mampu memenuhi kebutuhan energi manusia di bumi. Pencarian yang dilakukan manusia sejauh berjuta-juta tahun cahaya akhirnya membuahkan hasil, mereka menemukan sebuah planet yang mirip sekali dengan planet bumi. Mereka menyebut planet itu planet Pandora. Planet Pandora merupakan planet hijau yang dihuni oleh bangsa mirip kera berekor yang dinamakan Na’vi. Bangsa Na’vi hidup dalam kelompok-kelompok yang masing-masing dipimpin oleh seorang kepala suku. Kebanyakan dari mereka tinggal di pohon-pohon yang berukuran sangat besar. Bila dibandingkan dengan kehidupan manusia, kehidupan mereka masih terkategori primitif. Untuk menjaga diri, mereka menggunakan panah beracun yang mampu menghentikan detak jantung manusia dalam waktu sepersekian detik. Mereka sangat dekat dengan alam tempat mereka hidup, ada semacam ikatan batin atau hubungan spiritual yang boleh dibilang unik. Mereka sangat berhati-hati dalam interaksi mereka dengan penghuni hutan, sekalipun dengan hewan-hewan buas. Mereka cenderung enggan membunuh kalau bukan dalam kondisi terpaksa, dan sangat protektif terhadap upaya-upaya orang luar (asing) melakukan pengrusakan terhadap kekayaan hutan yang mereka miliki.
Penggambaran hutan ajaib bangsa Na’vi plus sikap care mereka terhadapnya membuatku terpukau dan tersentuh. Secara amat halus, sang sutradara berhasil menyinggung sikap kebanyakan manusia modern yang eksploitatif terhadap kekayaan fisik terbesar mereka sendiri, hutan. Bahkan, kerakusan manusia melewati batas-batas atmosfer luar planet bumi. Tak cukup menjarah dan merusak planet bumi, manusia mencari dan bahkan berencana merampas secara paksa kekayaan planet lain. Meski diakui, penemuan planet semacam Pandora tak tebih dari khayalan sang sutradara, kita diajak untuk melakukan refleksi terhadap apa yang selama ini telah kita perbuat terhadap planet kita. Seperti diceritakan di film, ambisi rakus manusia untuk menggali lebih banyak “mineral” di planet Pandora membuat mereka tak segan-segan menyakiti hutan dan mengusir penduduk asli bangsa Na’vi dari tempat tinggal mereka. Menggunakan senjata berbahan bakar nuklir, mereka menggempur pepohonan yang menjadi kediaman bangsa Na’vi. Semua dilakukan demi satu tujuan, kandungan “mineral” sumber energi yang tertanam di bawah permukaan planet Pandora. Persis seperti apa yang telah dilakukan manusia atas bumi yang menjadi tempat berpijaknya.
Film ini sedikit banyak mengingatkanku pada apa yang pernah diungkapkan seorang mantan Bandit Ekonomi, John Perkins dalam bukunya yang cukup fenomenal, Confession of an Economic Hitman. John Perkins dengan gamblang mengungkapkan bagaimana para kapitalis dunia menggunakan para ekonom (profesional ahli dalam bidang ekonomi) untuk melobi dan meyakinkan para penguasa di negeri-negeri timur untuk membuka lahannya bagi investasi negara-negara kapitalis besar. Pertama, para bandit ekonomi menggunakan senjata berupa prediksi-prediksi pertumbuhan ekonomi sebagai pintu masuk. Ketika tahap pertama terpenuhi, mereka masuk ke tahap negosiasi di mana mereka menawarkan kepada penguasa negeri timur untuk menjalin kerjasama investasi dengan perusahaan-perusahaan di negara mereka. Upaya negosiasi ini menjadi tahap paling krusial, karena pada tahap inilah kesempatan untuk mendapatkan konsesi bagi eksploitasi kekayaan alam di kawasan-kawasan strategis dapat diperoleh perusahaan-perusahaan asing. Tidak jarang, hambatan justru datang dari para penguasa yang tidak loyal pada keinginan negara-negara kapitalis besar. Jika terjadi hal demikian di mana proses negosiasi mengalami kebuntuan, militer menjadi jalan terakhir. Penguasa yang tidak loyal akan digulingkan secara militer. Beragam cara akan dilakukan untuk menggulingkan penguasa, entah itu bantuan persenjataan bagi militer lokal yang bersikap oposisi terhadap penguasa maupun militer yang langsung diterjunkan oleh negara-negara besar. Cara-cara kotor semacam itu telah menjadi kebiasaan umum negara-negara kapitalis raksasa demi memuaskan ambisi mereka menguasai sumber-sumber kekayaan alam dunia. Indonesia sendiri adalah contoh nyata praktik mereka. Konon, jatuhnya Soekarno tidak lepas dari upaya Amerika melalui CIA yang memberikan dukungan baik secara fisik dan nonfisik terhadap Soeharto dalam proses penggulingan kekuasaan Orde Lama. Setelah Orde Lama jatuh, terbentuknya Orde Baru menjadi pintu gerbang masuknya perusahaan-perusahaan asing ke Indonesia. Usaha-usaha pertambangan yang syarat perusakan hutan bermunculan bak jamur di musim hujan. Ambisi untuk mengejar pertumbuhan ekonomi harus dibayar dengan penyusutan luas wilayah hutan secara signifikan. Hilangnya hutan berarti hilang atau berkurangnya populasi satwa di dalamnya. Bayangkan kalau hal ini terus berlangsung, barangkali anak cucu kita kelak hanya bisa mendengar dan membaca cerita-cerita tentang Orang Utan atau Harimau Sumatera dari buku-buku sekolah. Orang Utan dan Harimau-nya sendiri sudah lama punah. Ironis, memang.
Deskripsi di atas sekedar contoh gaya penafsiranku terhadap film AVATAR. Melalui film ini, kita, sebagai penduduk planet Bumi, diingatkan untuk memikirkan masalah kerusakan hutan secara lebih serius. Kesalahan yang kita perbuat hari ini akibatnya tidak hanya akan menimpa generasi kita sekarang, generasi yang akan datang bisa dipastikan turut merasakan dampak yang barangkali jauh lebih mengerikan dibanding yang kita rasakan saat ini. Masa depan planet kita sangat ditentukan oleh apa yang kita perbuat saat ini atas planet ini. Kita ingin dikenang oleh anak cucu kita kelak sebagai generasi yang menaruh hormat terhadap lingkungan, yang bersedia mengorbankan kepentingan-kepentingan sesaat demi keberlangsungan kehidupan di planet Bumi. Jika kita memang tidak ingin disebut sebagai makhluk yang serakah, kita tunjukkan kepada pohon-pohon di hutan, bebek di kandang, monyet di kebun, atau kepada rumput-rumput yang bergoyang bahwa kita memang bukan makhluk serakah. Kita bukan tidak tergantung, melainkan sangat tidak tak bergantung (Ribet amat!). Tuhan mengamanahkan Planet Bumi kepada kita bukan untuk dijarah atau dikuras isi perutnya, melainkan untuk dijaga dan diambil manfaatnya dengan cara-cara yang bijak. Tidak masalah kita mengambil sekedar untuk memenuhi kebutuhan utama, selama tidak membuat kerusakan yang berakibat matinya kemampuan regenerasi unsur-unsur hidup planet Bumi. So, mulailah untuk mencintai lingkungan tempat kita hidup. Mulai untuk responsif terhadap isu-isu yang berhubungan dengan lingkungan. Berpartisipasi dalam usaha menjaga lingkungan tidak harus dengan ikut berunjuk rasa, protes, gelar poster atau aksi-aksi sejenis lainnya. Mengurangi pemakaian air saat mandi atau mengurangi penggunaan kertas saat bekerja bisa dijadikan contoh kontribusi kecil yang bisa kita berikan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia. Sekecil apapun bentuknya, akan sangat berarti bagi pembentukan mental kita dan orang-orang di sekitar kita untuk secara kontinu mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang ramah dan santun terhadap lingkungan, tempat di mana kita menggantungan cita-cita dan harapan hidup sebagai manusia.
Jakarta, 20 Desember 2009
January 5, 2010 at 6:05 pm
Kerennnn…. good job Rif, two thumbs up boleh nambah nggak selain penggunaan air dan kertas, penggunaan bahan bakar fosil perlu juga dikurangi saat ini orang cenderung menggunakan kendaraan padahal jarak tempat yang dituju kurang dari 500 M…